Mandi Halimun Pagi

Pagi di rumah ibuku di awali udara dingin yang menusuk dan adzan yang bergema dari segala pelosok desa. Tak lama kemudian suara motor dari mereka yang mengawali aktivitas lebih dini. Lalu cicit burung pipit yang entah bersarang dimana. Begitu membuka pintu terlihat embun dimana-mana. Dari lereng bukit turun ke sawah-sawah dan jalanan. Jarak pandang hanya beberapa meter ke muka. Dan pagi tadi aku berpesta dalam embun :

Sawah dan halimun

Pukul 6.30 Wib. Berangkat sekolah di jalan berembun

Pemandangan dari halaman rumah ibuku

Bersepeda menuju warung atau pasar?

This slideshow requires JavaScript.

Selesai motret ini, puncang hidungku terasa dingin sekali. Apakah teman-teman pernah mengalami pagi berhalimun juga?

Salam embun pagi:)

– Evi

About these ads

84 thoughts on “Mandi Halimun Pagi

  1. aduh komen saya kok hilang …

    saya hanya ingin bilang …
    saya suka sekali dengan foto bapak yang naik sepedah ditengah halimun itu …
    keren sekali fotonya

    salam saya Bu Evi

  2. Saya suka dengan Foto bapak yang bersepeda di tengah halimun kabut itu …
    seingat saya … saya jarang sekali mengalami pagi berkabut …

    baru sekitar bulan lalu … saya melihat di sekitar rumah saya

    salam saya Bu Evi

  3. kangen suasana desa yang giniaan.. soalnya biasanya kabut ada kalo di tempat yang dingin, bersih dengan ketinggian tertentu. kalo dikota, kabutnya kotoor.. asep knalpot semua

  4. hampir tiap hari bunda, karena kampungku ada di kaki gunung ciremai,,
    meskipun terkadang malam hari kesunyian dan suara jangkriknya pecah oleh suara moto trail yang menjadi pilihan transportasi yang paling cocok dengan kondisi jalan di kampungku

  5. Saya melihatnya saja sudah ikut kedinginan, asli saat saya mengetik ini kok sekujur badan ikut dingin … eerrrrr kedinginan beneran

    Bagus and keren mba, tapi dinginnya sampai kerasa ke Jakarta begini ya ???

    Salam kenal :D

  6. Pingback: Blogger Award Kedua | Draft Corner

  7. Kalo di Palembang, aku jarang ketemu pagi berembun, mbak. Pernah juga sih beberapa kali, tapi itu kalo malam sebelumnya hujan deras, hehe..

    Foto-fotonya cantik banget, mbak, waktu ngeliatnya saya langsung terbayang desa yang permai dalam buku bahasa Indonesia jaman SD dulu :D

    • Sepertinya Palembang sdh jadi kota besar yah Jeng. Di kota emang rada susah menikmati kabut kecuali kabut polusi.
      Thanks Jeng, aku waktu motret sawah, gunung dan batang kelapa disini baru ngeh kalau gambar2 yg diajarkan waktu SD dulu berasal dari pemandangan seperti ini..

  8. seperti biasa fotonya cantik cantik mbak Evi
    di sini aku juga sering bersepeda menembus kabut, yg kadang bisa seharian menyelimuti desa
    itu pohon yang ada di sisi kiri kanan jalan apa namanya mbak ?

  9. halimun artinya embun atau kabut ya? hihihi,, ga tau aku.. :D

    alhamdulillah bu, saya masih bisa merasakan suasana seperti itu hampir setiap hari :D

    luar biasa skali itu Allah menciptakan pemandangan yang bgitu indah di pagi hari.

    • Beruntung yg masih bisa tinggal dekat halimun ya Mas. Kata halimun sepertinya jarang dipakai sekarang, kecuali dlm puisi. Wong masih menyebutkan benda yg sama dr kabut, kemarin aku pakai saja :)

  10. whuaaaaaa…
    keren banget mba Eviiiii…

    aku tinggal di dalam komplek dan susah nyari halimun mba…
    segitunya ada kabut…
    ternyata tetangga sebelah lagi bakar sampah dan asapnya sampai ke rumah…hihihi…
    *pedih*

  11. Di perumahan kami awal pindah dulu masih bisa ketemu kabut ni, sekarang udah jarang banget, udah padat.

    Jadi rindu kampung halaman yg di kaki gunung juga ni, langsung pergi mandi ke sumber air panas

  12. hems selalu mengundang pesona. kesahajaan sebuah desa.
    mengingatkan aku pada Dieng. udara dingin berkabut tapi hangat sambutan pada warganya. he he berbeda dengan kota metropolitan ya mbak evi, terang benderang dan panas tetapi dingin warganya.

    • Waktu ke Dieng itu pula yg aku rasakam Mb Min. Warganya masih bersarung menghapi kabut pagi, namun secara emosi tak membangun penahan dingin dalam berhubungan dng sesama :)

  13. pernah mbak…waktu camping dulu, hehe…. dingi2 asyik ya mbak… :)
    oya, di Salatiga juga sering menemui kabut 7 embun…etapi itu duluu…entah sekarang, mungkin Bu Prih lebih tahu, hehe…

  14. pas awal2 winter kemaren disini juga sering berkabut tebel banget gitu… :)

    tapi kalo embun2 sih setiap pagi selalu ada bu. keliatan terutama dari mobil2 yang diparkir di jalan. kalo kita pagi keluar jalan nganter andrew sekolah, mobil2 itu pasti pada basah.

  15. ya ampun buda…kabutnya sesuatu banget, ini yang saya cari beberapa hari yang lalu, sampai sekarang masih rindu banget sama embun dan kabut…
    eh akhirnya dapat kabutnya di sini….

    • Di bukit kebun teh, halimun hal yg biasa ya Mb Lid. Iya aku jg jd ingat puncak salah satu tempat paling dekat dr Jakarta yg kita bisa nikmati halimun diatasnya

  16. saya tinggal di kaki gunung Mbak, masih sering merasakan halimun sampai sekarang, meski mulai berkurang di banding saya kecil dulu.
    Dan saya, sangat suka halimun, apalagi ditambah rintik hujan & hutan pinus .. ufh, indah …

  17. Wow, wow, wow. Pokoknya setiap melihat masing-masing foto yang keluar hanya itu…..
    Oh ya tahun lalu saya dari Bukittinggi lewat Ngarai Sianok terus ke Danau Maninjau dan kebetulan di kelok 44 hujan. Persis seperti ini Uni, kabutnya huuuuu membuat ujung-ujung jari, telinga, hidung menjadi dingin, … :)

  18. Karena Rumah Ibuk saya dipuncak gunung, maka saya sangat akrab dengan suasana Pagi Berhalimun itu Mbak…
    Minyak goreng pada beku, kalau mau masak musti dipanaskan dulu karena gak bisa dituang dari botol…
    Ditempat seperti itu hidung2 pasti pada dingin. Kayaknya itu adalah fenomena alam.
    (Jadi kangen pengin pulang

Komentar di bawah. Terima kasih atas kunjungannya :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s